2012: Antara Jogja, Jambi, Manado, Memahami Arti Cultural Diversity yang Sesungguhnya

Sebenarnya tulisan ini sdah ada di blog sejak Januari 2015, tapi cuma nyangkut jadi draft dan tak kunjung diselesaikan 😅. Judul asli tulisan ini  "Manado, Cultural Diversity, dan Mestizo Cultural" tapi karena sudah g tau lagi kerangka berpikirnya bagaimana, jadi alih haluan lah ya..Sebagian masih menggunakan tulisan aslinya kok. O iya, tulisan ini akhirnya naik tayang karena masih berhubungan dengan NHW #3, jadi diselesaikanlah dengan cara seksama 😝 Tulisan ini tidak bermaksud SARA, sama sekali tidak. Hanya sekedar sharing yang saya lihat, dengar, dan rasakan.


Prolog dari draft. Lama g nyampah, tiba-tiba kangen untuk menorehkan sesuatu *ceileh*. Mengingat bahwa sebentar lagi pergantian tahun (dari 2014 ke 2015), jadinya pingin flashback lagi yang udah dilewati selama 3 tahun belakangan yang luput dari publikasi *kayak orang penting ajeeeee*. Okesipjoss, kita mulai.

Tahun 2011 saya diakhiri dengan terbitnya SK mutasi suami. Tidak tanggung-tanggung, dari Jambi yang berada di Sumatera bagian Selatan ke Manado-Sulawesi Utara. Drama ala telenovela yang menguras air mata kami pun terjadi. Bagaimana tidak? Rumah mungil yang kami idam-idamkan baru saja rampung, bahkan baru dihuni 10 bulan. Perabotnya pun baru saja memenuhi sudut-sudut rumah kami. Tapi tetap saja, mutasi adalah suatu keniscayaan di instansi tempat saya dan suami bekerja. 

Januari 2012 Suami menjadi 'cucuk lampah' alias pembuka jalan ke Manado, disusul oleh saya 3 minggu kemudian yang jatuh tepat di hari Valentine-14 Februari 2012. Sekalipun kami berdua (saya dan Suami) sesungguhnya sudah merantau sejak lulus SMA, namun kami tetap saja merasa kesulitan untuk beradaptasi di Manado. 

Kesulitan Pertama: Perut dan Lidah
Manado sudah sejak dahulu tersohor dengan masakannya yang 'ajaib'. Segala yang berkaki empat, kecuali meja dan kursi, dipastikan dapat disajikan di atas meja makan. Bagi kami yang baru saja menjejakkan kaki di Manado, tentu saja menjadi tantangan tersendiri untuk mencari tempat makan yang 'nasional' dan halal. Jika pun menemukan yang 'nasional' dan halal, harganya jauh di atas harga yang biasa kami bayarkan di Jambi apalagi Jogja (kalau yang Jogja tidak perlu ditanya lagi lah yaaa). Soal rasa, cabai alias rica (dalam bahasa Manado) yang dibubuhkan dalam setiap masakan tidak tanggung-tanggung pedasnya. Belakangan baru saya tahu, bahwa memang cabai yang dijual di Manado ini level kepedasannya di atas cabai yang ada di Sumatera dan jika musim sedang tidak bersahabat, harganya bisa menembus angka Rp130.000/kg. Luar biasa bukan?

Lambat laun, seiring berjalannya waktu, saya mulai bisa 'menandai' tempat makan mana yang boleh dimasuki dan yang tidak boleh dimasuki. Cara paling mudahnya adalah dengan mencari tanda/simbol keagamaan di tempat makan itu. Biasanya, jika makanan yang dijual halal, maka akan ada kaligrafi Allah dan Muhammad. Beberapa juga memajang Kaligrafi Ayat Seribu Dinar. Masih tidak yakin kehalalannya? Gampang, masak sendiri jadi solusinya. Hehehehe..

Konsep halal-haram di kota ini agak sedikit berbeda. Masakan tanpa babi atau yang sering dipajang dengan label 'no pork', mudah saja dikatakan halal. Namun Anda yang beragama Islam, seperti halnya saya, tidak perlu khawatir dengan menjadi minoritas. Pada dasarnya masyarakat di kota ini sangat menghargai perbedaan. Beberapa kali saya alami, saat saya masuk ke sebuah tempat makan, pramusajinya langsung menyapa saya dan memberi tahu jika mereka menyajikan babi dalam hidangannya. Padahal saat itu saya belum mengenakan jilbab. Setelah saya mengenakan jilbab, justru mereka lebih ekstrem lagi dalam 'menjaga' saya. Ketika saya berbelanja di pasar tradisional, misalnya, para penjual memperingatkan saya untuk lewat di area yang bebas babi dan sebangsanya. Ketika saya hendak membeli ayam, penjual daging ayam potong yang dagangannya awalnya hendak saya beli juga mengingatkan "Ibu nda bisa beli pa torang, kita laeng" (Ibu tidak bisa beli di tempat saya, saya lain). Artinya, penjual daging ayam potong tersebut tahu bahwa kami yang Muslim ini punya tata cara tersendiri dalam menyembelih ayam. Berikutnya jika saya hendak membeli produk daging-dagingan seperti ayam maupun sapi atau kambing, saya tinggal mencari penjual yang memakai kopiah atau jilbab. Untuk penjual makanan jadi, mereka juga tidak tersinggung jika kita tanya "Ini boleh voor kita?" (Makanan ini bisa untuk saya?-dalam arti halal dimakan). Tapi rumus cepat dari saya ya sama seperti beli daging tadi, tinggal kita cari yang penjualnya pakai kopiah atau jilbab. Sederhana kan?

Kesulitan Kedua: Bahasa
Indonesia memang negara yang luar biasa. Begitu beragamnya suku bangsa yang ada di dalamnya, yang masing-masing memiliki bahasa, tradisi, maupun adat istiadatnya sendiri. Ketika saya tinggal di Jambi 3 tahun lamanya, tidak terlalu sulit bagi saya untuk memahami Bahasa Melayu Jambi. Sebagian besar suku katanya masih seperti Bahasa Indonesia, namun huruf vokal yang menjadi akhiran diganti menjadi huruf o. Seperti: misalnya - misalnyo; siapa - siapo; apa - apo; kiranya - kironyo; berapa - berapo; dll. Lain halnya dengan Bahasa Melayu Palembang yang akhirannya menjadi huruf e. Namun tetap saja masih bisa dipahami, bahkan tidak butuh waktu lama untuk bisa ikut berdialog dengan Bahasa Melayu ini. Kita baru akan mengalami kesulitan jika sudah memasuki area Kerinci. Jangan bangga dulu jika Anda bisa satu Bahasa Kerinci, karena di Kabupaten Kerinci, tiap desa memiliki dialeknya sendiri. Bahkan tidak hanya dialek, tapi juga kosakata yang sangat berbeda satu sama lain. 

Di Manado, bahasa pergaulan yang digunakan masih Bahasa Indonesia dengan dialek khas Manado berupa imbuhan jo, kang, dang, kwa, kotek, katuk. Beberapa serapan asing juga digunakan dalam bahasanya. Meskipun masih banyak menggunakan kosakata Bahasa Indonesia, namun lebih sulit bagi telinga saya untuk beradaptasi, dan lebih sulit bagi lidah saya untuk berdialog dalam Bahasa Manado ini. Bisa jadi karena otak saya yang belum bisa memisahkan dengan Bahasa Melayu, sehingga dalam dialog terkadang masih tersisip dialek Melayu Jambi.

Kesulitan Ketiga: Biaya Hidup
Jika di Jawa ada istilah 'Mangan ora mangan, waton kumpul', maka di Manado ada istilah "Boleh kalah nasi, asal jang kalah gaya". Saat tiba di Manado, kami takjub dengan kemampuan makan orang asli sini..super buanyaaakkk kali menurut takaran kami. Harga makanannya pun jauuuuuhh berbeda dengan harga makanan di Jambi (apalagi di Jogja *minta ditoyor*). Pada akhirnya, makan di restoran franchise cepat saji terasa murah setelah di Manado. Tanpa bermaksud sombong, membeli sepatu dengan brand kenamaan yang dulu membuat pelipis berkedut pun kini jadi terasa biasa saja. Perhitungan matematisnya begini: Satu kali makan dengan menu sederhana, satu orang minimal harus membayar Rp40.000,00. Jika saya berdua dengan suami harus jajan di luar sepanjang hari, maka pengeluaran saya untuk makan di hari itu minimal adalah Rp240.000,00 (Rp40.000,00 x 2 orang x 3 kali). Untuk membeli sepatu tersebut, kini kami hanya cukup mengencangkan ikat pinggang beberapa hari saja. Misalnya jika hendak makan, cukup dengan masak ala kadarnya di rumah. Inilah yang menjawab teka-teki munculnya istilah "Boleh kalah nasi, asal jang kalah gaya". Tapi tetep yaaa..selalu modis-modal diskon. Kl g modis, mikir 1000 kali juga mau beli 😂

Kalau sekarang karena sudah terbiasa dengan biaya hidup yang demikian, tidak ada kendala berarti. Paling mulai pusing kalau harga salmon dan ayam kampung buat makanan Faydhan naik harga 😋. Tapi duluuuu di awal-awal kami tinggal di Manado, benar2 seperti ujian matematika setiap harinya. Menghitung-hitung pengeluaran per hari, mewek kalau matematikanya ternyata minus sampe akhir bulan. Lucu kalau diingat-ingat lagi.. Sempat kami masuk masa paceklik, dimana uang pindah belum cair dan gajian masih jauh. Ada beberapa hari yang kami lalui dengan makan nasi kuning, beli 3 bungkus untuk pagi sampai dengan malam. Satu bungkus dimakan berdua. Bersyukurlah dengan porsi makan orang Manado yang cukup untuk membuat kenyang perut dua orang perantau ini. Nasi kuning itu kami beli hanya nasinya tok, tanpa topping atau side dish apapun. Lauknya? Rendang dan kering kentang bikinan mertua. Memangnya tahan lama? Iya, tahan lama. Tapi g tahan juga kalau sampai 2 minggu tanpa dipanasi. Jadi, setiap akan makan pasti saya akan memunggungi suami, menyisihkan jamur2 yang mulai  muncul dipermukaannya. Alhamdulillah, Allah memang Maha Baik, kami tidak pernah sakit perut karenanya. Suami juga baru tahu cerita ini beberapa bulan setelahnya, setelah kami lebih 'longgar' di kantong.


Dongeng saya di atas cukup menyadarkan saya akan banyak hal dari beragamnya budaya di Indonesia. Sebagai seseorang yang pernah menetap di beberapa pulau dengan budaya yang berbeda satu sama lain membuat saya dan suami memantapkan hati untuk melepas anak-anak kami merantau  nantinya. Agar mereka tahu bahwa Indonesia itu luas dan beragam. Agar mereka tahu bahwa dunia itu tidak hanya ada di atlas. Semoga kami diberikan usia panjang untuk mengantar anak-anak kami kelak. Aamiin..

Komentar

Postingan Populer