Games Kelas Bunda Sayang Level 1 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif (Hari 10)
Setelah 2 minggu diajak menjadi 'anak kantoran', Idhan sepertinya sudah terbiasa dengan rutinitas kantor. Idhan tidak lagi menuntut perhatian dan bisa asyik main dengan segala properti kantor, mulai dari lemari geser sampai dengan ordner-ordner yang bergelimpangan di ruangan. Karena sudah terbiasa dengan rutinitas ini, maka mudah bagi saya untuk mengarahkan Idhan. Pita suara juga seolah bisa memahami bahwa 2 minggu ini dirinya 'ditahan' untuk tidak menaikkan oktaf.
Tapiiii..kebuntuan komunikasi sempat terjadi dengan Apahnya Idhan. Meskipun tidak lama, namun cukup menguras emosi. Sebetulnya ini cerita kemarin, tapi butuh waktu untuk menuliskannya karena butuh waktu untuk menata hati.. cieeeehh..
Tidak seperti pagi biasanya, kemarin pagi saya benar-benar seperti tersedot energinya. Saat suami membangunkan saya, otomatis mata langsung melihat ke jam dinding yang ternyata tidak mau berbohong.. kesiangaaaaaaannnn!!! Otak saya langsung melompat-lompat pada serangkaian pekerjaan rumah yang juga berpacu dengan waktu. Makanan Idhan belum dibuat, botol susu belum dicuci, sarapan untuk suami belum diracik sama sekali, mesin cuci belum menjalankan tugasnya. Astaghfirullah.. panik luar biasa.
Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba suami menyeletuk "Itu baju Idhan di kasur mau dipacking?"
"Iya", jawab saya singkat.
"Kalau ditaruh di kasur gitu nanti kalau Tante dateng dikira disuruh disetrika loh", sahut Apah Idhan.
Tiba-tiba saya tanpa bisa menahan diri menyahut "Iyaaaaa...mau dipacking belum sempat".
"Loh kok marah sih, kan Apah cuma bilang, kalau ditaruh disitu nanti disetrika lagi sama Tante", jawab suami tanpa menyadari dimana kesalahan pemilihan diksinya.
"Ya udah, malah makin rapi kan kalo disetrika ulang?" saya masih menjawab juga dengan nada semakin meninggi. "Bukannya nawarin apa yang bisa dibantu malah nyodorin masalah baru," tambah saya. Daaaannn tambah bersahut-sahutan setelahnya, diakhiri dengan aksi bungkam dua belah pihak. Pagi yang luar biasa.
Aksi bungkam tidak bertahan lama, entah karena demi Idhan atau karena suami menyadari kesalahan diksinya. Kami belum sempat berdiskusi, meluruskan FoR/FoE atas permasalahan tersebut. Nanti, tunggu saat yang tepat. Yang pasti, segera.
Komentar
Posting Komentar