Games Kelas Bunda Sayang Level 1 : Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif (Hari 1)


Materi pertama kelas Bunsay ini betul-betul menjadi peer besaaaaaarr buat saya. Membangun komunikasi produktif dalam rumah itu tidak sederhana. Komunikasi itu proses yang rumit dan tiada akhirnya. Mata kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi yang sudah saya lalui 8 semester dulu seakan tidak ada artinya . Teori tinggal teori, praktek nyatanya tidak semudah menghapal deretan huruf itu. Sekarang saatnya aplikasi segala teori sekaligus berbenah diri. Jika kemarin menjadi 'corong'nya instansi, sekarang alih peran.. reportase pencapaian komunikasi produktif saya (Amah Maya, 32 tahun) dengan nak bujang kesayangan, Idhan (18 bulan).

Kesempatan saya menjalin komunikasi tatap muka dengan Idhan dalam sehari terhitung singkat. Pagi hari sejak Idhan bangun sekitar pukul 6 pagi hingga  maksimal pukul 07.30, dan lanjut sepulang kerja sekitar pukul 18.00 hingga Idhan tidur pukul 21.00. Tidak banyak waktu yang bisa saya miliki untuk membersamai anak (mulai melow). Jadi, cerita saya ya hanya bisa dipilih antara 2 waktu itu.. tidak banyak, namun semoga cukup berarti untuk Idhan kelak.

Pagi ini Idhan bangun agak siang, sudah hampir pukul 06.30. Saat Idhan bangun, saya sedang melakukan 'senam pagi' ala emak tanpa ART.. menyapu dan mengepel rumah *kibasjilbab. Tau doooonng gimana anak bayik kl lihat emaknya lagi pegang senjata.. yups, sudah pasti Idhan kepo maksimaaaall. Biasanyaaaaa Amah bakal ganti nada dasar suara 2 oktaf lebih tinggi, tapiiii tadi pagi sepertinya materi Bunsay bener2 nemplok plok plok di kepala.

Tarik napas, hembuskan..
Bungkukkan badan sejajar dengan Idhan, lalu dengan intonasi lembut 'Idhan mau bantu Amah? Mana pelnya Idhan?' Kebetulan memang Idhan punya seperangkat alat kebersihan versi anak-anak.
Idhan ternyata tidak mau membantu Amah, Idhan cuma kepo. Dia melongo saat saya mengajaknya membantu.  Alih-alih mengambil pelnya, Idhan malah memilih untuk mengekor saya. Again, kaidah 7-38-55.. saya berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Idhan, menatap mata Idhan, daaaann senyum maksimal padanya sambil berkata "Nak, Amah baru ngepel. Lantainya liiii...." "cin" sambungnya.
"Nanti Idhan bisa kepleee..." "seeet"
"Kalau kepleset jaaaaa.. " "tuh"
"Kalau jatuh nanti saaa.." "kit.. huhuhuhu" sambung Idhan sambil gaya pura-pura nangis kesakitan.
Ternyataaaa.. it works!! Idhan berhenti mengekor, dan suka rela duduk di teras sambil mengamati saya melanjutkan 'senam pagi' dan sesekali berujar "air..air.." sambil menunjuk ke arah ember pel.

Alhamdulillah, semoga bisa terus konsisten..



Komentar

Postingan Populer