Masih Sakti Kah??

(Secuil Renungan di Hari Kesaktian Pancasila: Part I)

Kemarin sore, saya sebagai Humas mengumumkan melalui speaker tentang pelaksanaan upacara yang dilaksanakan pagi ini. Terdengar nada 'Aaaahh' panjang dari rekan-rekan, kompak 3 lantai!!! Saya tertegun, dan tiba-tiba grogi membacakan instruksi dinas tentang pengumuman upacara itu. Ya...karena saya pun setengah hati tak rela jika harus berdiri berjajar di bawah terik mentari pagi.

Usai membacakan instruksi dinas yang diwarnai beberapa kesalahan akibat ketidakrelaan hati itu, saya pun merenung di balik meja. Pikir saya kala itu, esok adalah Hari Kesaktian Pancasila, yang menurut novel karangan Ayu Utami 'Manjali dan Cakrabirawa' yang baru 2 minggu menghuni rak buku di kamar saya, adalah hari ketika Pancasila menunjukkan kekuatannya yang dibuktikan dengan gagalnya G30S/PKI

Partikel-partikel di otak saya pun berdansa, dan ingatan saya pun memilih tahun 1992. Delapan belas tahun yang lalu, namun masih cukup jelas terpatri.

1 Oktober 1992

Tanggal 1 bulan Oktober tahun 1992, saya masih seorang anak kecil berseragam merah putih yang duduk di bangku kelas 2. YA, saya adalah murid SD kelas 2. Pagi itu, usai upacara bendera Hari Kesaktian Pancasila, saya sibuk bertukar cerita dengan teman-teman seangkatan tentang simbol yang dikisahkan oleh papa (panggilan untuk ayah saya) semalam sebelumnya. Simbol yang dianggap tabu, dan haram ditampilkan terlebih di instansi pemerintahan.

Malam itu, pukul 21.00 dan saya belum terlelap. Saya sangat penasaran dengan film 'G30S/PKI' yang cuplikannya sempat ditampilkan sore hari itu. Kala itu televisi di rumah orang tua saya masih dwiwarna, alias hitam-putih. Dengan gelombang frekuensi VHF, dan siaran yang bisa ditangkap adalah TVRI... the one and only!! Papa sibuk merayu saya untuk segera merangkai mimpi. Saya enggan beranjak. Dan akhirnya mengalirlah kisah dari bibirnya, berusaha merangkum jalan cerita film yang membuat saya penasaran setengah mati. Tentu saja kisahnya ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap berdasarkan pengalamannya yang pernah hidup di era itu dan secuil kisah dari Mbah Kung (sebutan saya untuk kakek)yang kala itu menjadi pegawai pemerintah di Departemen Penerangan. Saya pun hanya manthuk-manthuk, karena jika saya terlalu banyak bertanya pasti akan terdengar teriakan mama dari dalam kamar "Ojo dicritakne, pa!" (Jangan diceritakan, pa!). Sebuah wujud rasa takut yang tidak saya ketahui sebabnya. Dan kebingungan saya pada reaksi mama makin menjadi kala mama sewot habis-habisan setelah papa menggambar simbol sebuah partai politik yang dianggap sebagai biang keladi munculnya tragedi G30S/PKI.

Palu dan Arit.

Nah...pagi itu, saya mengulang yang dikisahkan oleh papa di sekolah. Termasuk gambar palu dan arit-nya. Kali ini, mama tidak sewot. Tapi Bu Guru yang sewot. Sibuklah Bu Guru ceramah panjang lebar dengan diakhiri kalimat "Kalau Polisi tahu, bisa dipenjara kamu!"

Makin bingung Maiya kecil. Bagaimana mungkin hanya menggambarkan sebuah simbol partai politik yang kala itu sudah tidak ada lagi bisa mengantarkan orang masuk ke hotel prodeo? Makin garuk-garuk kepala... Pulang sekolah, bertanyalah Maiya kecil pada papa. Dan dijawab "Itu lambang organisasi yang dilarang pemerintah, kalau menggambar bisa dianggap jadi anggotanya. Bisa ditangkap dan dipenjara seperti kata Bu Guru. Jangan diulangi lagi ya..." Masih tetap tidak mengerti.

Komentar

Postingan Populer